Top Pick
Edi Endi : Kemenangan Edi-Weng adalah kemenangan Masyarakat Mabar Guru di Flores Ini Hembuskan Nafas Terakhir Saat Perayaan Malam Natal BPO-LBF dan Pemerintah Kabupaten Bima Teken MoU pada Subsektor Parekraf Kesiapan UMKM di Tengah Upaya Pemerintah Bangun Pariwisata Labuan Bajo yang Mandiri dan Berkelanjutan HUT RI Ke-76, Kepsek SMKN 3 Komodo: Kami Rindu Bertemu Anak Didik Partai Solidaritas Indonesia Belu membagikan 1.000 Masker Gratis

Stefanus Senda, Petani Yang Mengembangkan Tanaman Pala di Pulau Flores

POSTNTT.COM || Ende - Inilah sosok Stefanus Senda, yang tinggal di Desa Wolo Sambi, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende yang berhasil menggembangkan tanaman pala di Pulau Flores.

Pada tahun 1972, dia sudah berkeluarga karena terhimpit oleh persoalan ekonomi keluarga dia meniggalkan kampung halaman di Desa Wolosambi, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende menuju Maluku

Stefanus meninggalkan Pulau Flores bersama dengan beberapa teman - temanya melalui jalur laut dari maumere menggunakan perahu layar para nelayan asal Pamana.

Kepada media, Senin (07/09/20) bapak Stefanus Senda menerangkan selama perjalanan menuju Maluku terlintas dipikiranya untuk mencari uang sebanyak - banyak guna membangun usaha dikampung halamanya ketika sudah kembali dari perantauan.

Dalam perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya bapak Stefanus Senda bersama teman - teman menepi dan berlabu disalah satu pantai di Pulau Kusui Maluku.

" Dari kejauan sebelum mengijakan kakinya ditanah Kusui Maluku saya melihat pemandangan luar biasa, sepanjang pantai tumbu subur banyak pepohonan yang belum pernah saya jumpai di kampung saya bahkan dipulau flores

Selamah tiga tahun di Maluku saya mencoba mencari tahu jenis tanaman yang bayak tumbu dipulau ini, ternyata tanaman ini merupakan incaran bayak orang bahkan penjajah (Kolonial) yang menjajah bangsa Indonesia karena harganya sangat mahal.

Hari demi hari berlalu di tanah perantauan, hingga suatu hari terlintas dipikiranya untuk mengembangkan tanaman pala di kampung saya

Pada tahun 1975 saya meninggalkan Maluku dan kembali ke Flores melalui Sorong dan Mamuju dengan membawa seratus bibit pala. Dari hasil pembibitan yang saya kembangkan berhasil hidup sebanyak 30 pohon, dan ditanam dikebun.

Pada tahun 1978 saya dipercaya oleh Masyarakat Desa untuk menjadi Kepala Desa Wolo Sambi, pada saat menjabat Kepala Desa saya mencoba mengembangkan dalam jumlah banyak.

Ia menambakan Ketika sedang menjadi Kepala Desa dia mencoba mensinergikan program desa dengan program Pemerintah Provinsi yaitu Nusa Hijau

Pada tahun 1990 saya mengembangkan pembibitan pala sebanyak 11 ribu anakan untuk dibagikan kepada Masyarakat yang bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Kabupaten Ende, tuturnya.

Anakan pala dibagikan kewilayah Detusoko, Maurole, Nangapenda bahkan di luar Kabupaten Ende di daerah Mauponggo dan Mangarai oleh Pater Fiser melalui jalur Gereja Katolik.

Saat ini saya memiliki 400 pohon pala, 100 pohon yang sudah bisa panen dan 300 pohon sudah mulai berbungah, sehingga di usia senja saya bisa menikmati hasik kerja keras saya selama ini dan mewariskan kepada anak cucu saya nantinya,"Tutupnya. ( Ronald Degu / POSTNTT.COM )

 

 


Halaman