Top Pick
Pemda Matim Berikan Bantuan Sosial Untuk Mahasiswa Terdampak Covid-19 dari Dana APBD Realitas dan Keputusan Pemilih Fraksi PDIP DPRD Ende Desak Pemkab Perketat Jalur Masuk Wilayah Utara Beri Bantuan APD Ke Pemkab Ende, Bupati Djafar: Terima Kasih Persekutuan Ebenhazer Jakarta Pilkada ditunda, ini tanggapan sejumlah Bacabup di Manggarai Barat Memasuki New Normal Sopir Rental Bandara Datangi Kantor DPRD Ende

Dianiaya Tanpa Sebab, Wartawan di Labuan Bajo Alami Luka Berat

POSTNTT.COM | Labuan Bajo - Seorang jurnalis di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Petrus Aloisius Hermanto (43) dianiaya hingga babak belur, Sabtu (29/5/2020) malam.

Petrus yang biasa disapa Lois ini menceritakan jika dirinya dianiaya oleh pelaku hingga babak belur.

"Selain ditendang hingga masuk ke dalam got, hidung saya juga dipukul," kata Louis saat ditemui pada Sabtu malam.

Sebelum dianiaya, lanjut Louis, ia tengah mengikuti acara internal keluarga di kediaman saudaranya, Honorius Sema.
Saat itu, dirinya dipercaya untuk memainkan keyboard untuk mengiring beberapa saudara yang menyanyi.

Tiba-tiba muncul pelaku bersama rekannya berinisial O dan merusak suasana acara internal keluarga.

"Saya kan main keyboard untuk mengiringi beberapa lagu dari saudara saya. Dan saya tidak tahu dia datang dari mana, yang jelas dia tidak diundang," katanya.

Saat bersama, sempat terjadi keributan yang dilakukan oleh pelaku, sehingga pemilik rumah meminta pelaku untuk pulang.

Acara keluarga pun dihentikan karena sudah larut malam dan pelaku hendak diantar pulang menggunakan mobil milik salah satu rekan Louis yang hadir.

"Saya juga pergi kencing di got yang berada di dekat rumah, pelaku ini kebetulan belum diantar pulang, tiba-tiba dia tendang saya dari belakang saat saya kencing," kisahnya.

Akibat ditendang pelaku, Louis terjatuh dalam got dan mengalami luka lecet di tangan dan memar di lutut kanan akibat benturan. Bahkan celana jeans yang dikenakannya pun robek.

Tidak sampai di situ, pelaku sekali lagi melakukan penganiayaan dengan memukul tepat di wajah Louis sebanyak satu kali.

"Saya kaget karena ditendang pelaku. Dan setelah keluar dari got dan berdiri, saya tanya dia kenapa pukul saya? Namun, pelaku bilang, kau mau lawan saya? Kemudian, dia pukul saya lagi," tutur Louis menirukan perkataan pelaku.

Tidak hanya itu, lanjut Louis, pelaku juga sempat mengatakan bahwa dirinya yang membuat berita tentang corona.

Namun demikian, masih kata Louis, dirinya tidak melakukan perlawanan saat dianiaya pelaku. Setelah itu, pelaku pun langsung diantar pulang menggunakan mobil.

"Dia langsung pulang karena saudara saya berdatangan ke lokasi kejadian," ungkapnya.

Sementara itu, adik korban, Bonefasius Oldam (40) mengaku kaget saat mengetahui bahwa kakaknya dianiaya.

Dikatakan Bonifasius, keluarga mengetahui bahwa korban dianiaya setelah mendengar adanya teriakkan.

"Jarak dari rumah ke tempat kejadian itu 15 meter. Saya lari ke sana setelah dengar ada teriakan. Akan tetapi pelaku sudah meninggalkan lokasi," jelasnya.

Bonifasius membenarkan bahwa pelaku sempat membuat keonaran hingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi pemilik rumah dan tamu lainnya.

Karena itu, lanjut Bonifasius, pelaku yang saat itu tengah mabuk berat langsung diantar pulang.

"Saat duduk bersama, pelaku sempat putar banting meja. Namun, keributan yang terjadi saat itu diselesaikan bersama, bahkan pelaku sempat berlutut dan meminta maaf kepada pemilik rumah", ungkap Bonifasius.

Akan tetapi, lanjut Bonifasius, pihaknya tidak terima atas perbuatan pelaku yang menganiaya kakaknya, terlebih saat korban tengah buang air kecil dan dianiaya tanpa sebab.

"Tentu kami tidak terima atas perbuatan pelaku yang menganiaya saudara saya. Apalagi saudara saya tersebut tengah buang air kecil", pungkas Bonefasius.

Karenaya, pihak keluarga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus penganiayaan tersebut.

Informasi yang dihimpun POSTNTT.COM diketahui bahwa akibat dari peristiwa penganiayaan tersebut, mantan jurnalis TVRI ini mengalami sejumlah luka dan mengaku sakit di sekujur tubuhnya.

 

Penulis : Vansi Helmut